Minggu, 25 Mei 2008
BUAH SIMALAKAMA DI ERA REFORMASI
Bedug reformasi bertalu sepuluh tahun lalu...,semangat datang menggebu-gebu..,harapan baru muncul di setiap kalbu...," sabda alam" di harap datang menyiram negeri nan layu..,tetapi...,tetapi apa lacur...,bedug tinggalah bedug..,reformasi tinggalah sebuah kata indah yang hanya menghasilkan "bedug BBM"naik pangkat.Pembaca..,Bedug bikinan saya ini ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi,berisi kata reformasi,yang melahirkan sejuta asa...,sementara di sisi lain memuat BBM 'naik pangkat'..,yang bukannya melahirkan dua juta asa..,tapi Bedug yang hanya akan mempersingkat umur.Lho kok..? Iya..sebab setelah bedug BBM bertalu..,tiba gilirannya 'Bedug Sembako' (bedug terasi.,bedug kecap.,bedug ikan asin.,bedug minyak curah., bedug gula.,dan bedug-bedug yang lain) akan segera di tabuh,bukan hanya bertalu...,tapi bertalu-talu,artinya banyak "talu" nya. Sehingga akan bertambahlah penderita strok bin stres karena memikirkan kebutuhan hidup dan kehidupan yang tidak pernah mendekati kata "layak" di negeri yang konon kabarnya subur makmur..,gemah ripah loh jinawi..,toto tenterem kerto raharjo..,subur kang sarwo tinandur..., murah kang sarwo tinuku..(wis mumet ora kowe). Lha tapi ibarat sebuah perusahaan..,biar gedung mentereng,modal banyak..kalau sang Meneger tidak menguasai medan ya apa jadinya boss ! Inilah konsekwensi yang harus kita ( kelas kere ) pikul bersama atas pilihan kita. Kita kan sukanya barang yang baru..,termasuk pemimpin yang baru..,sehingga menurut pendapat saya pribadi,semenjak bedug reformasi di tabuh..,negeri ini tidak lebih hanya di jadikan bahan eksperimen oleh mereka yang merasa mampu jadi pemimpin.Syukur bisa sukses.., kalau tidak.. tidak apa.,yang penting sudah merasakan enaknya hidup sebagai pemimpin dengan segala fasilitasnya. sehingga pula banyak yang antri pingin merasakannya. Persis seperti judul film " GANTIAN DO..OONG "karya almarhum GEPENG. Di sisi lain,rakyat khususnya kelas 'kere' seperti yang nulis ini hanya di bikin spot jantung.,menanti 'sabda' pemimpin mengetokkan palu kebijakan. Ayo siapa lagi yang akan kita coba di 2009 ? Setiap ada pemilihan pemimpin, kita bagaikan dihadapkan pada buah " simalakama " Di makan Emak meninggal.., tidak di makan Bapak meninggal. Tidak memilih yaa bagaimana..,memilih yaa hanya begitu-begitu terus. Mudah di tebak. Benar tidaknya tulisan ini ,Wallahu Alam Bisyawab, Wassalam.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar